LUMAJANG —HIGHLIGHT NEWS ID Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Jawa Timur, Kusnali, menegaskan bahwa peningkatan pelayanan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) harus dibarengi pembinaan yang mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Kusnali saat meresmikan Dapur Sehat “Semeru Prima” di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lumajang, Sabtu (26/9/2026).
Bagi Kusnali, fasilitas baru tersebut tidak semata-mata dibangun untuk mendukung penyediaan makanan bagi WBP. Dapur Sehat “Semeru Prima” harus menjadi bagian dari tata kelola pelayanan yang lebih baik sekaligus mendukung proses pembinaan secara berkelanjutan.
Pemenuhan kebutuhan dasar merupakan bagian penting dari pelayanan pemasyarakatan. Namun, tujuan pembinaan menurut Kusnali tidak berhenti pada terpenuhinya kebutuhan WBP selama menjalani masa pidana.
“Pemasyarakatan tidak berhenti pada pemenuhan hak selama WBP menjalani masa pidana. Yang lebih penting, bagaimana setiap pembinaan memberikan bekal agar mereka mampu kembali secara baik, mandiri, dan produktif di masyarakat,” ujar Kusnali.
Kusnali Tekankan Dapur Sehat Harus Dikelola dengan Disiplin
Kehadiran Dapur Sehat “Semeru Prima” memperkuat upaya Lapas Kelas IIB Lumajang meningkatkan standar pelayanan dasar bagi WBP.
Penyediaan makanan yang sehat, layak, berkualitas, dan tertata membutuhkan kedisiplinan serta tanggung jawab dalam setiap prosesnya.
Karena itu, Kusnali menekankan pentingnya pengelolaan yang konsisten. Fasilitas yang telah dibangun harus memberikan manfaat nyata dan tidak berhenti pada seremoni peresmian.
Selain mendukung pelayanan makanan, aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan dapur juga dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai kebersihan, keteraturan, tanggung jawab, serta kedisiplinan dalam bekerja.
Dengan pendekatan tersebut, pemenuhan kebutuhan dasar dapat berjalan beriringan dengan pembinaan yang memberikan pengalaman positif bagi WBP.
Dari Dapur, Kusnali Dorong Penguatan Ketahanan Pangan
Kusnali juga menekankan agar Dapur Sehat “Semeru Prima” terhubung dengan program produktif lainnya di Lapas Lumajang.
Salah satunya melalui program ketahanan pangan berupa budidaya ayam petelur dan sawi Rajawali.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada WBP untuk terlibat dalam aktivitas produktif yang membutuhkan ketekunan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemampuan mengelola kegiatan.
Melalui pengalaman langsung tersebut, WBP memperoleh kesempatan untuk memahami proses kerja sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai manfaat.
Bagi Kusnali, kegiatan semacam ini memiliki arti penting karena pembinaan tidak hanya diberikan dalam bentuk arahan, tetapi juga melalui pengalaman nyata.
“Orientasinya bukan sekadar mengisi aktivitas selama menjalani masa pidana, melainkan memberikan pengalaman yang dapat menjadi bekal bagi WBP ketika nantinya kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat,” tegasnya.
Program ketahanan pangan pun diarahkan menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pembinaan kemandirian.
Lapak UMKM Perluas Ruang Produktivitas WBP
Penguatan pembinaan juga dilakukan melalui keberadaan Lapak UMKM yang dikelola Koperasi Pegawai.
Lapak tersebut dapat menjadi ruang untuk mengembangkan aktivitas produktif sekaligus mendukung proses asimilasi WBP secara terarah.
Keterlibatan WBP dalam aktivitas kerja memberikan pengalaman mengenai proses produktif, pengelolaan pekerjaan, serta aktivitas ekonomi yang memiliki nilai manfaat.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menambah keterampilan WBP sebagai bekal ketika kembali ke keluarga dan lingkungan masyarakat.
Kusnali memandang Dapur Sehat, program ketahanan pangan, kegiatan produktif, dan Lapak UMKM sebagai rangkaian pembinaan yang saling melengkapi.
Pelayanan dasar menjadi fondasi, sedangkan kegiatan produktif menjadi ruang untuk mengembangkan pengalaman dan keterampilan.
Kusnali: Integritas Petugas Menjadi Kunci
Di tengah penguatan fasilitas dan program pembinaan, Kusnali memberikan penekanan mengenai pentingnya integritas dan konsistensi jajaran Lapas Lumajang.
Ia mengingatkan bahwa fasilitas yang baik harus dibarengi dengan disiplin petugas dalam memberikan pelayanan. Program yang telah dibangun juga harus dijaga keberlangsungannya agar manfaatnya benar-benar dirasakan WBP.
“Fasilitas yang baik harus diikuti disiplin dan konsistensi petugas dalam memberikan pelayanan. Setiap program yang telah dibangun harus dijaga keberlangsungannya sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi WBP,” pesan Kusnali.
Menurutnya, fasilitas dan program pembinaan hanya akan memberikan hasil apabila dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan konsisten.
Karena itu, Kusnali meminta jajaran Lapas Lumajang terus menjaga integritas, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memastikan seluruh program pembinaan berjalan secara berkelanjutan.
Ukuran Pembinaan Tidak Berhenti di Dalam Lapas
Peresmian Dapur Sehat “Semeru Prima” menjadi bagian dari rangkaian penguatan pelayanan dan pembinaan di Lapas Kelas IIB Lumajang.
Dapur sehat memperkuat pelayanan kebutuhan dasar. Budidaya ayam petelur dan sawi Rajawali membuka ruang kegiatan produktif. Sementara Lapak UMKM memberikan pengalaman tambahan mengenai aktivitas kerja dan ekonomi.
Keseluruhan program tersebut diarahkan untuk mendukung proses pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas selama WBP berada di dalam Lapas, tetapi juga pada kesiapan mereka ketika kembali ke masyarakat.
Bagi Kusnali, tersedianya fasilitas bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana fasilitas tersebut dikelola dan program pembinaan dilaksanakan secara konsisten sehingga memberikan manfaat nyata.
Melalui Dapur Sehat “Semeru Prima”, ketahanan pangan, kegiatan produktif, serta Lapak UMKM, Lapas Kelas IIB Lumajang terus memperkuat pembinaan yang humanis, produktif, berintegritas, dan berorientasi pada kemandirian WBP.
Bagi Kusnali, pelayanan dasar adalah fondasi. Namun, proses pemasyarakatan harus bergerak lebih jauh dengan memberikan keterampilan, pengalaman, tanggung jawab, dan kesiapan agar WBP dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri dan produktif di tengah masyarakat (Dd).






