Home / PEMERINTAHAN / Heru MAKI Jatim Berenang Bersama Hiu di Bangsring, Kelestarian Laut Jadi Kunci Kemakmuran Warga Pesisir

Heru MAKI Jatim Berenang Bersama Hiu di Bangsring, Kelestarian Laut Jadi Kunci Kemakmuran Warga Pesisir

BANYUWANGI – HIGHLIGHT NEWS ID Menikmati laut tidak cukup hanya dengan mengagumi keindahannya. Di balik pesona bawah laut, terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga ekosistem yang menopang pariwisata sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Pesan inilah yang mengemuka saat Ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Provinsi Jawa Timur, Heru Satriyo, S.Ip., mengunjungi kawasan Bangsring Underwater (BUNDER), Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (10/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Heru MAKI Jatim berenang bersama hiu laut. Momen itu menjadi daya tarik tersendiri di tengah pesona wisata bahari Bangsring, sekaligus mengangkat perhatian pada pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata, kelestarian lingkungan, keselamatan pengunjung, dan kesejahteraan masyarakat.

Bangsring Underwater dikenal sebagai destinasi ekowisata yang memadukan rekreasi, edukasi lingkungan, dan upaya pelestarian terumbu karang. Potensi tersebut menjadi modal penting bagi Banyuwangi untuk mengembangkan pariwisata yang tidak hanya menarik pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Berenang Bersama Hiu, Pesona yang Harus Diimbangi Tanggung Jawab

Pengalaman berenang bersama hiu menjadi salah satu daya tarik yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan. Namun, interaksi dengan satwa laut harus tetap memperhatikan prosedur keselamatan, arahan petugas atau pemandu, serta ketentuan pengelola destinasi.

Wisata bahari yang bertanggung jawab tidak berhenti pada pengalaman berfoto atau menikmati keindahan alam. Pengunjung juga perlu memahami bahwa kehidupan bawah laut merupakan bagian dari ekosistem yang harus dilindungi.

Terumbu karang dan berbagai biota laut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kerusakan habitat, pencemaran, dan aktivitas manusia yang tidak terkendali dapat mengurangi kualitas ekosistem serta mengancam daya tarik wisata itu sendiri.

Karena itu, perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan dengan pengembangan fasilitas dan promosi wisata. Pengelolaan sampah, edukasi pengunjung, pengawasan aktivitas laut, dan penerapan standar keselamatan menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

Bangsring Underwater, Wisata Bahari yang Bertumpu pada Kelestarian Alam

Bangsring Underwater menawarkan beragam aktivitas, mulai dari menikmati Rumah Apung, snorkeling, dan diving hingga kano, banana boat, serta perjalanan menggunakan perahu.

Rumah Apung menjadi salah satu ikon destinasi tersebut. Sementara itu, snorkeling dan diving memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal kehidupan bawah laut secara lebih dekat dengan tetap mengikuti ketentuan keselamatan dan pendampingan yang berlaku.

Berbagai aktivitas tersebut berpotensi memperkuat posisi Banyuwangi sebagai tujuan wisata bahari. Akan tetapi, peningkatan jumlah kunjungan harus diimbangi dengan kemampuan kawasan menjaga daya dukung lingkungannya.

Semakin berkembang sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengelolaan yang terencana. Kebersihan kawasan, kualitas pelayanan, kondisi fasilitas, keselamatan wisatawan, dan perlindungan habitat perlu menjadi perhatian bersama.

Sebab, keindahan laut bukan sekadar pelengkap promosi. Justru, lingkungan yang terjaga merupakan modal utama agar destinasi dapat terus menarik pengunjung dalam jangka panjang.

Heru Satriyo MAKI Jatim Soroti Pentingnya Menjaga Aset Bersama

Kehadiran Heru Satriyo di Bangsring Underwater menempatkan kekayaan alam sebagai aset bersama yang perlu dijaga melalui keterlibatan berbagai pihak.

Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, keberhasilan pariwisata tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang atau besarnya aktivitas ekonomi. Kualitas lingkungan, keamanan, pelayanan, dan manfaat yang diterima masyarakat setempat juga menjadi ukuran penting.

Masyarakat pesisir memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan sumber daya laut. Ketika lingkungan terjaga, kegiatan wisata berpeluang terus berkembang. Sebaliknya, apabila ekosistem mengalami kerusakan, dampaknya dapat meluas hingga mengganggu usaha dan mata pencaharian warga.

Karena itu, upaya konservasi harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Pengelola perlu memastikan aktivitas wisata berjalan sesuai ketentuan, masyarakat didorong terlibat dalam menjaga kawasan, pemerintah menjalankan fungsi pembinaan sesuai kewenangannya, dan wisatawan mematuhi aturan yang berlaku.

Pengunjung juga memiliki tanggung jawab sederhana tetapi penting: menjaga kebersihan, tidak merusak terumbu karang, serta tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun biota laut.

Konservasi Laut dan Kesejahteraan Warga Harus Berjalan Bersama

Di luar pesona alamnya, Bangsring Underwater memiliki potensi ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat sekitar. Pergerakan wisatawan membuka peluang usaha bagi penyedia jasa perahu, pemandu, penyewaan perlengkapan, pelaku kuliner, hingga usaha lokal lainnya.

Potensi tersebut perlu dikelola agar manfaat pariwisata tidak hanya berhenti pada peningkatan kunjungan, tetapi juga memperkuat kesempatan usaha masyarakat.

Peningkatan keterampilan, pelayanan yang profesional, kebersihan, dan kenyamanan pengunjung menjadi faktor yang dapat mendukung daya saing destinasi. Keterlibatan masyarakat lokal juga penting agar pertumbuhan wisata memberikan nilai tambah bagi perekonomian kawasan.

Di sisi lain, pengembangan usaha harus tetap memperhatikan perlindungan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan daya dukung alam berisiko mengurangi sumber daya yang justru menjadi fondasi utama kegiatan pariwisata.

Dengan demikian, konservasi dan kesejahteraan warga bukan dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Lingkungan yang sehat dapat menjadi dasar bagi pariwisata yang bertahan lebih lama, sedangkan masyarakat yang memperoleh manfaat ekonomi memiliki kepentingan besar untuk ikut menjaga kelestarian kawasan.

Transparansi dan Akuntabilitas Tetap Menjadi Prinsip Penting

Sebagai organisasi yang bergerak dalam isu antikorupsi, MAKI Jatim memiliki relevansi dalam mendorong penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab dalam pembangunan sesuai kewenangan yang berlaku.

Dalam pengelolaan sektor pariwisata, tata kelola yang baik mencakup kepatuhan terhadap ketentuan, penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab, serta pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Prinsip tersebut penting untuk membangun kepercayaan masyarakat dan menjaga keberlanjutan destinasi. Meski demikian, kegiatan MAKI Jatim di Bangsring Underwater tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya dugaan penyimpangan tertentu. Penilaian mengenai persoalan tata kelola maupun dugaan pelanggaran harus didasarkan pada informasi, data, dan bukti yang dapat diverifikasi.

Pendekatan yang objektif dan berbasis fakta diperlukan agar pengawasan serta dorongan terhadap akuntabilitas berjalan seiring dengan dukungan terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Merawat Laut, Menjaga Masa Depan Banyuwangi

Bangsring Underwater memperlihatkan potensi wisata bahari yang dapat menggabungkan rekreasi, edukasi, konservasi, dan peluang ekonomi. Namun, keberlanjutan destinasi sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan alam dan perlindungan ekosistem.

Momen Heru Satriyo MAKI Jatim berenang bersama hiu laut menjadi bagian dari perhatian terhadap pesona Bangsring Underwater. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan keindahan tersebut tetap terjaga dan manfaat pariwisata dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Bagi Banyuwangi, laut bukan hanya daya tarik wisata, melainkan juga aset lingkungan dan penopang kehidupan masyarakat pesisir. Pengembangan wisata yang bertanggung jawab membutuhkan kerja sama pengelola, masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, dan pengunjung.

Pada akhirnya, keberhasilan Bangsring Underwater tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga oleh seberapa baik lingkungan dipelihara dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.

Laut yang terjaga akan membuka peluang bagi ekonomi yang berkelanjutan. Sebaliknya, ketika ekosistem rusak, bukan hanya keindahan alam yang hilang, melainkan juga fondasi kehidupan warga pesisir yang ikut terancam (Red).

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
error

Enjoy this blog? Please spread the word :)