SIDOARJO, – HIGHLIGHT NEWS ID Dalam senyap malam yang panjang dan rangkaian ujian yang menguras fisik maupun mental, 12 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gresik akhirnya resmi dikukuhkan sebagai bagian dari insan Pemasyarakatan yang berintegritas. Prosesi tersebut menjadi puncak dari kegiatan Pembinaan Fisik, Mental, dan Disiplin (FMD) serta pembaretan yang digelar di Lapas Kelas I Surabaya, Kamis (18/6/2026).
Sebanyak delapan CPNS laki-laki dan empat CPNS perempuan dari Rutan Gresik bergabung bersama 50 CPNS Pemasyarakatan lainnya dari berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Koordinator Wilayah Surabaya. Seluruhnya mengikuti pembinaan terpadu yang menjadi bagian dari strategi penguatan sumber daya manusia Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur untuk mencetak aparatur yang profesional, tangguh, dan berintegritas tinggi.
Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang mewakili Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, menegaskan bahwa pembentukan aparatur pemasyarakatan tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis, tetapi juga pada fondasi karakter yang kuat.
Ia menekankan bahwa integritas, disiplin, dan etika profesi menjadi pilar utama yang wajib dimiliki setiap insan pemasyarakatan dalam menghadapi dinamika tugas yang semakin kompleks dan penuh tantangan.
Sebelum memasuki tahapan lapangan, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kesiapan fisik. Setelah itu, mereka menerima pembekalan materi mengenai tugas dan fungsi pemasyarakatan, nilai-nilai dasar ASN, serta kode etik profesi sebagai pedoman dalam menjalankan amanah negara.
Memasuki sore hari, peserta diberangkatkan untuk mengikuti long march mengelilingi area sekitar Lapas Kelas I Surabaya. Mereka dibagi ke dalam enam regu dan harus menuntaskan berbagai tantangan di sejumlah pos yang telah dirancang sebagai simulasi kerja lapangan.
Setiap tantangan tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir cepat, kepemimpinan, komunikasi, serta kerja sama tim dalam kondisi penuh tekanan. Di titik ini, keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh individu, melainkan oleh kekompakan dan solidaritas setiap regu.
Ketika malam semakin larut, suasana pembinaan berubah menjadi lebih berat. Kelelahan fisik, tekanan psikologis, dan minimnya kondisi istirahat menjadi bagian dari skenario yang dirancang untuk menguji ketahanan mental para peserta. Namun semangat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian tetap terjaga hingga akhir.
Salah satu momen paling krusial terjadi saat para CPNS harus menjalani prosesi pengambilan baret di area pemakaman yang gelap dan minim penerangan. Dalam kondisi tersebut, mereka dihadapkan pada ujian keberanian sekaligus pengendalian diri untuk tetap fokus menyelesaikan tugas.
Situasi itu menjadi pengalaman paling menegangkan dalam seluruh rangkaian kegiatan. Namun justru dari momen tersebut lahir pembelajaran penting tentang keberanian, ketenangan, dan kesiapan menghadapi realitas tugas pemasyarakatan yang tidak selalu mudah dan penuh kepastian.
Pengambilan baret bukan sekadar ritual seremonial, melainkan simbol perjalanan panjang dalam menaklukkan rasa takut, membentuk karakter, dan memperkuat komitmen terhadap nilai integritas serta pengabdian.
Setelah seluruh rangkaian selesai, kegiatan mencapai puncaknya melalui prosesi penyematan baret oleh para Kepala Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan Koordinator Wilayah Surabaya. Dalam suasana khidmat, para CPNS secara resmi dikukuhkan sebagai insan pemasyarakatan yang telah menyelesaikan pembinaan karakter.
Bagi 12 CPNS Rutan Kelas IIB Gresik, momen tersebut menjadi titik awal pengabdian yang sesungguhnya. Baret yang kini mereka kenakan bukan hanya atribut kedinasan, tetapi simbol tanggung jawab untuk menjaga marwah institusi, menegakkan disiplin, dan menjunjung tinggi integritas.
Pelaksana Harian Kepala Rutan Kelas IIB Gresik, Dhimas Isdwiyono, menyampaikan apresiasi atas ketangguhan dan dedikasi para CPNS selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menegaskan bahwa Pembinaan Fisik, Mental, dan Disiplin merupakan instrumen penting dalam membentuk aparatur yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara karakter dan memiliki jiwa korsa yang solid.
“Pembinaan Fisik, Mental, dan Disiplin ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi proses pembentukan karakter yang sangat penting bagi setiap CPNS Pemasyarakatan. Mereka dilatih untuk memiliki disiplin, integritas, serta ketangguhan mental sebagai bekal dalam melaksanakan tugas ke depan,” ujar Dhimas.
Ia juga menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan fondasi utama dalam membangun sistem pemasyarakatan yang modern, humanis, dan berintegritas. Karena itu, pembinaan sejak dini menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan institusi.
Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, 12 CPNS Rutan Gresik resmi memasuki babak baru pengabdian sebagai aparatur pemasyarakatan. Dari rangkaian panjang yang penuh tekanan hingga gelapnya malam yang harus ditaklukkan, lahir tekad baru untuk berdiri sebagai garda depan penjaga integritas, profesionalisme, dan kehormatan institusi pemasyarakatan Indonesia (Dd).






