Home / PEMERINTAHAN / Dari Ujian Ketakutan Menuju Simbol Kehormatan: 62 CPNS Pemasyarakatan Surabaya Resmi Dikukuhkan Sebagai Garda Integritas Masa Depan

Dari Ujian Ketakutan Menuju Simbol Kehormatan: 62 CPNS Pemasyarakatan Surabaya Resmi Dikukuhkan Sebagai Garda Integritas Masa Depan

SIDOARJO, –HIGHLIGHT NEWS ID Sebuah baret bukan sekadar penutup kepala. Di lingkungan pemasyarakatan, atribut tersebut merupakan simbol kehormatan yang hanya dapat diraih melalui proses panjang penuh pengorbanan, kedisiplinan, dan keteguhan mental. Nilai itulah yang menjadi inti dari pelaksanaan Pembinaan Fisik, Mental, dan Disiplin (FMD) serta pembaretan terhadap 62 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemasyarakatan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur Koordinator Wilayah Surabaya yang berlangsung di Lapas Kelas I Surabaya.

Selama lebih dari satu hari satu malam, para CPNS menjalani serangkaian pembinaan intensif yang dirancang untuk membentuk karakter, memperkuat integritas, dan menanamkan semangat pengabdian sebagai bekal menghadapi tantangan tugas pemasyarakatan yang semakin kompleks di era modern.

Sebanyak 62 peserta yang terdiri atas 35 laki-laki dan 27 perempuan mengikuti seluruh tahapan kegiatan dengan penuh semangat dan dedikasi. Mereka tidak hanya dituntut memiliki kesiapan fisik yang prima, tetapi juga harus mampu menunjukkan ketangguhan mental, kemampuan kepemimpinan, loyalitas, kerja sama tim, serta komitmen terhadap nilai-nilai organisasi.

Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang mewakili Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur. Dalam arahannya, Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, menegaskan bahwa pembinaan yang diberikan merupakan investasi karakter yang akan menentukan kualitas para CPNS dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara.

Menurutnya, institusi pemasyarakatan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cakap dalam aspek teknis, tetapi juga memiliki integritas kuat, kedisiplinan tinggi, ketahanan mental, serta kemampuan menjaga profesionalisme dalam berbagai situasi yang penuh tantangan.

Sebelum memasuki tahapan lapangan, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai langkah awal memastikan kesiapan fisik mereka. Setelah itu, para CPNS mendapatkan pembekalan mengenai sistem pemasyarakatan, etika profesi, tugas pokok dan fungsi petugas, hingga nilai-nilai dasar yang harus menjadi pedoman dalam menjalankan tugas.

Memasuki sore hari, suasana pembinaan berubah semakin dinamis. Peserta dibagi menjadi enam regu dan mengikuti long march di sekitar kawasan Lapas Kelas I Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari simulasi lapangan yang bertujuan menguji ketahanan fisik sekaligus membangun solidaritas dan kekompakan antarpeserta.

Sepanjang perjalanan, setiap regu menghadapi berbagai tantangan di sejumlah pos yang telah disiapkan panitia. Beragam skenario dan simulasi diberikan untuk mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, serta ketepatan dalam mengambil keputusan di bawah tekanan.

Ketika malam mulai larut, tantangan yang dihadapi peserta semakin berat. Kondisi fisik yang mulai terkuras menjadi ujian tersendiri. Namun justru dalam situasi tersebut terlihat karakter asli para peserta. Disiplin, semangat pantang menyerah, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama menjadi faktor penting dalam menyelesaikan setiap tahapan.

Puncak ujian mental berlangsung dalam suasana yang penuh ketegangan ketika para peserta harus mengambil baret di area pemakaman yang gelap dan minim pencahayaan. Dalam kondisi sunyi dan penuh tekanan psikologis, mereka dituntut mampu mengendalikan rasa takut, menjaga fokus, serta menyelesaikan tugas yang diberikan.

Bagi sebagian peserta, momen tersebut menjadi pengalaman paling menantang selama kegiatan berlangsung. Namun dari ujian itulah mereka belajar tentang arti keberanian, pengendalian diri, dan kesiapan menghadapi berbagai kondisi yang tidak selalu ideal dalam kehidupan tugas sebagai petugas pemasyarakatan.

Prosesi pengambilan baret memiliki makna filosofis yang mendalam. Baret bukan hanya simbol kelulusan dari sebuah pelatihan, melainkan lambang perjalanan seorang aparatur negara dalam membangun karakter, menjaga integritas, dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab besar kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Setelah seluruh rangkaian pembinaan berhasil diselesaikan, kegiatan mencapai puncaknya melalui prosesi penyematan baret oleh para Kepala Unit Pelaksana Teknis (Ka UPT) Pemasyarakatan Korwil Surabaya. Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti para peserta yang akhirnya resmi menyandang simbol kehormatan tersebut.

Penyematan baret menjadi penanda lahirnya generasi baru insan pemasyarakatan yang telah melewati proses pembentukan karakter secara menyeluruh. Mereka kini tidak hanya membawa atribut institusi, tetapi juga mengemban amanah besar untuk menjaga marwah organisasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dalam amanatnya, Sohibur Rachman menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama yang harus dijaga oleh setiap insan pemasyarakatan sejak hari pertama pengabdian. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seorang petugas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh sikap, etika, dan komitmen terhadap nilai-nilai organisasi.

“Malam ini bukan hanya tentang mengenakan baret, tetapi tentang membangun komitmen untuk menjaga integritas, disiplin, dan etos kerja. Jadilah insan Pemasyarakatan yang mampu menjaga nama baik organisasi serta memberikan kontribusi positif bagi institusi,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tantangan pemasyarakatan ke depan akan semakin kompleks sehingga dibutuhkan aparatur yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pengabdian, profesionalisme, dan kemanusiaan.

Program FMD dan pembaretan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab kebutuhan organisasi di masa depan. Melalui pembinaan yang terstruktur dan berorientasi pada pembentukan karakter, diharapkan lahir aparatur yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas yang kokoh.

Saat fajar mulai menyingsing di kawasan Lapas Kelas I Surabaya, seluruh rangkaian kegiatan resmi berakhir. Namun bagi 62 CPNS tersebut, berakhirnya pembaretan justru menjadi titik awal perjalanan panjang pengabdian mereka.

Dari malam yang penuh ujian itu lahir generasi baru pemasyarakatan yang telah membuktikan bahwa kehormatan tidak diberikan secara cuma-cuma. Kehormatan harus diperjuangkan melalui disiplin, keberanian, loyalitas, dan komitmen tanpa henti untuk menjaga integritas. Mereka kini siap menjadi garda terdepan dalam mengawal transformasi pemasyarakatan Indonesia menuju institusi yang semakin profesional, humanis, modern, dan berkeadilan (Dd).

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
error

Enjoy this blog? Please spread the word :)