GRESIK —HIGHLIGHT NEWS ID Keterbatasan ruang gerak tidak menyurutkan semangat warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur untuk terus berkarya. Melalui program pembinaan kemandirian, tangan-tangan warga binaan dilatih menghasilkan produk bernilai guna, salah satunya songkok.
Kegiatan produksi songkok menjadi salah satu program yang dilaksanakan secara rutin di Rutan Gresik. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi kegiatan produktif selama warga binaan menjalani masa pembinaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah keterampilan, kreativitas, kedisiplinan, serta kemandirian sebagai bekal ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Pada Rabu (30/9/2026), proses pembuatan songkok kembali dilakukan. Warga binaan mengikuti tahapan produksi secara aktif, mulai dari memilih bahan kain beludru, membuat dan memotong pola secara presisi, menjahit, hingga menyelesaikan tahap akhir atau finishing.
Setiap tahapan membutuhkan ketelitian. Kesalahan dalam memotong pola maupun proses menjahit dapat memengaruhi bentuk dan kualitas produk. Karena itu, warga binaan dibiasakan bekerja secara cermat dan konsisten agar menghasilkan songkok yang rapi, kokoh, nyaman dikenakan, serta memiliki nilai estetika.
Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan yang diarahkan tidak hanya pada keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter.
Menurutnya, proses produksi mengajarkan warga binaan bahwa sebuah karya berkualitas tidak dapat dihasilkan secara instan. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, kedisiplinan, dan konsistensi dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
“Ketekunan dan kedisiplinan menjadi kunci utama untuk menghasilkan songkok yang rapi, kokoh, serta memiliki nilai estetika tinggi. Melalui proses ini, warga binaan belajar bahwa sebuah karya yang berkualitas membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan konsistensi,” ujar Dhimas.
Ia menambahkan, pembinaan kemandirian tersebut dirancang sebagai bagian dari persiapan warga binaan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pembinaan. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi salah satu modal untuk menjalani aktivitas produktif ketika kembali ke masyarakat.
«“Melalui program ini, Rutan Gresik menegaskan bahwa pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.»
Dalam proses pengerjaan, warga binaan juga dibiasakan memahami pentingnya menjaga kualitas produk. Mereka tidak sekadar belajar menggunakan peralatan produksi, tetapi juga dilatih bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan yang dikerjakan.
Nilai-nilai seperti disiplin, kesabaran, ketelitian dan tanggung jawab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas tersebut. Dengan demikian, pembinaan kemandirian diharapkan mampu membangun pola kerja positif sekaligus meningkatkan kepercayaan diri warga binaan terhadap kemampuan yang mereka miliki.
Rutan Gresik pun membuka ruang untuk pengembangan program tersebut. Peningkatan mutu, inovasi desain, hingga penyesuaian model dengan kebutuhan dan selera pasar menjadi bagian yang dapat dikembangkan ke depan.
Bagi Rutan Gresik, setiap songkok yang dihasilkan bukan semata-mata sebuah produk. Di balik jahitan, potongan pola, dan proses finishing terdapat proses pembelajaran yang diharapkan mampu mendorong perubahan sikap dan keterampilan warga binaan.
Program tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan di dalam Rutan tidak berhenti pada pemenuhan aktivitas sehari-hari. Ada upaya untuk menyiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan, pengalaman, dan kepercayaan diri ketika waktunya kembali ke lingkungan masyarakat.
Dari sebuah songkok yang dibuat dengan tangan, tersimpan proses panjang tentang ketekunan dan kesempatan untuk belajar. Harapannya, keterampilan yang tumbuh selama masa pembinaan dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk menatap masa depan secara lebih produktif, mandiri, dan bertanggung jawab (Dd).






