SIDOARJO—HIGHLIGHT NEWS ID Lapangan Desa Mulyodadi, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Minggu sore (30/8/2026), menjadi saksi semangat sportivitas dan kebersamaan masyarakat dalam acara penutupan Turnamen Sepak Bola Putra Mulya.
Bukan sekadar pertandingan sepak bola, turnamen tersebut menjadi ruang berkumpulnya masyarakat sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan energi melalui kegiatan positif. Semangat persatuan dan kebersamaan begitu terasa hingga rangkaian acara penutupan berlangsung.
Momentum tersebut mendapat apresiasi dari Gus Aziz, Pembina Gerakan Satu Ibu Pertiwi (GSIP) Sidoarjo. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan kepemudaan dan olahraga yang tumbuh dari masyarakat desa.
Gus Aziz menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia, perangkat desa, para peserta, pemuda, dan seluruh masyarakat Mulyodadi yang telah menyukseskan turnamen secara sportif.
«“Kami melihat sendiri semangat luar biasa dari pemuda Mulyodadi. Turnamen ini membuktikan bahwa persatuan itu nyata. Di lapangan tidak ada perbedaan, yang ada hanya satu tim, satu desa, dan satu Indonesia. Inilah makna Satu Ibu Pertiwi yang terus kami gaungkan,” ujar Gus Aziz.»
Menurutnya, olahraga memiliki kekuatan besar untuk menyatukan masyarakat. Ketika pertandingan berlangsung, perbedaan latar belakang maupun kelompok tidak menjadi penghalang. Semua melebur dalam satu semangat untuk menjaga persaudaraan dan sportivitas.
Gus Aziz: Membangun Indonesia Bisa Dimulai dari Lapangan Desa
Gus Aziz menilai pembangunan bangsa tidak selalu harus dimulai dari agenda besar. Justru kegiatan sederhana yang tumbuh dari masyarakat, seperti turnamen sepak bola di desa, dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda.
«“Membangun Indonesia tidak harus menunggu dari atas. Cukup mulai dari lapangan desa, dari turnamen seperti ini. Di sinilah kita mendidik sportivitas, kerja keras, dan cinta tanah air kepada generasi muda,” tegasnya.»
Ia mengatakan, lapangan sepak bola dapat menjadi ruang pendidikan informal bagi anak-anak dan pemuda. Mereka belajar disiplin, kerja sama, menghargai aturan, menghormati lawan, menerima kemenangan maupun kekalahan, serta memahami arti tanggung jawab.
“Lapangan bola ini adalah sekolah kedua bagi anak-anak kita. Di sini mereka belajar disiplin, kerja tim, dan menghargai. Itu nilai kebangsaan,” tambahnya.
Tiga Pilar GSIP: Sehat, Guyub, dan Berdaya
Dalam momentum tersebut, GSIP Sidoarjo kembali menegaskan arah gerakannya yang berfokus pada penguatan persatuan, pemberdayaan keluarga, dan pengembangan potensi desa.
Di Sidoarjo, GSIP membawa tiga pilar utama, yakni Sehat, Guyub, dan Berdaya.
Sehat, melalui kegiatan olahraga dan berbagai aktivitas positif yang mendorong masyarakat, khususnya pemuda, memiliki pola hidup aktif.
Guyub, melalui kegiatan bersama yang memperkuat hubungan sosial, gotong royong, persaudaraan, dan persatuan warga.
Sedangkan Berdaya, dengan mendorong desa agar mampu mengembangkan potensi masyarakat, pemuda, olahraga, UMKM, serta berbagai kegiatan produktif lainnya.
Gus Aziz menegaskan bahwa ketiga pilar tersebut harus terus diwujudkan melalui kegiatan nyata di tengah masyarakat.
“Sidoarjo kuat kalau desanya kuat. Desa kuat kalau pemudanya aktif dan positif seperti di Putra Mulya ini,” katanya.
GSIP Siap Bersinergi dengan Desa dan Komunitas
Lebih jauh, GSIP Sidoarjo menyatakan komitmennya untuk terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, karang taruna, komunitas olahraga, dan berbagai elemen masyarakat.
GSIP tidak ingin kehadirannya hanya muncul dalam momentum perayaan kemerdekaan. Gerakan tersebut ingin terlibat dalam kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami tidak ingin hanya hadir saat 17-an. Kami ingin hadir saat warga butuh pendampingan, pelatihan, dan kegiatan produktif,” ungkap Gus Aziz.
Menurutnya, desa memiliki potensi besar apabila pemuda dan masyarakat diberikan ruang untuk bergerak serta berkreasi.
Karena itu, GSIP juga mendorong agar kegiatan olahraga dan pemberdayaan masyarakat terus diperbanyak di berbagai desa di Kabupaten Sidoarjo.
Media Diajak Angkat Kegiatan Positif Desa
Gus Aziz turut mengajak insan media untuk memberikan perhatian lebih terhadap berbagai kegiatan positif yang berlangsung di tingkat desa.
Menurutnya, pemberitaan mengenai kegiatan olahraga, pemberdayaan masyarakat, UMKM, kepemudaan, dan aktivitas sosial dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya.
“Dari desa yang guyub dan produktif, Sidoarjo dan Indonesia akan semakin kuat,” ujarnya.
Ia berharap Turnamen Putra Mulya tidak berhenti sebagai agenda tahunan di Mulyodadi, tetapi mampu menjadi inspirasi bagi desa lain untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.
“Kami berharap tahun depan bukan hanya Mulyodadi, tetapi desa-desa lain di Sidoarjo juga mempunyai turnamen seperti ini. Dan GSIP, insyaallah, siap menjadi mitra untuk mewujudkannya,” tegasnya.
Penutupan Penuh Kebersamaan
Rangkaian penutupan Turnamen Putra Mulya berlangsung dengan suasana penuh kegembiraan. Setelah seluruh pertandingan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan piala kepada para juara.
Momen tersebut menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan seluruh tim yang telah mengikuti turnamen dengan menjunjung tinggi semangat kompetisi dan sportivitas.
Acara kemudian ditutup dengan yel-yel kebangsaan yang diikuti para peserta dan masyarakat yang hadir.
Bagi GSIP Sidoarjo, siapa pun yang menjadi juara bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Jauh lebih penting adalah lahirnya ruang kebersamaan yang mampu mempertemukan masyarakat, menggerakkan pemuda, menjaga sportivitas, dan mengisi momentum kemerdekaan dengan kegiatan yang bermanfaat.
Turnamen Putra Mulya akhirnya meninggalkan pesan kuat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tempat sederhana.
Membangun Indonesia dimulai dari membangun lapangan desa. Membangun lapangan dimulai dari membangun kebersamaan.
Semangat tersebut diharapkan terus hidup di Mulyodadi dan menular ke berbagai desa lainnya, sehingga lahir generasi muda Sidoarjo yang sehat, guyub, produktif, dan berdaya (Dd).






